Not Trust Issue, Nor Overthinking, But I Think It's Just a Whisper

Susana hening dan khusyu menyelimuti saya (paling kiri) beserta rekan sekantor. ketika dilangsungkan pembacaan do'a pada rangkaian apel memperingati hari bela negara, pagi ini (19/12/2023) di halaman kantor diskominfo.

Setiap orang punya masalah, dan setiap masalah harus dicari jalan pemecahannya, terlebih hakikatnya manusia tidak akan diberi masalah/beban melebihi kemampuannya. Mengutip steve jobs "if you define the problem correctly, you almost have the solution", saya mencoba menggambarkan dan mengurai penyebab masalah yang saya rasakan melalui bisikan-bisikan dan berbagai pengalamam bathin lewat beragam tulisan  di website pribadi ini, dengan harapan agar konten ini menjadi jembatan penghubung antar some-one-out-there dari berbagai keterbatasan pandangan terhadap ruang dan waktu.

Pagi ini (19/12/2023), tidak seperti biasanya asri/riri staff sebidang sudah duduk di mejanya, tidak sarapan dahulu dikantin berkempul bersama teman-teman lainnya. Saya yang heran melihat perbedaan ini langsung ngajak ngobrol dan bercerita bahwa sayamah kalau ngumpul-ngumpul di kantin pagi habis upacara suka takut tergoda untuk mencicipi jajanan terlebih pesen ngopi, karena biasanya kalo saya makan/minum disitu saya dapat bisikan "berarti logikanya bukan nyaneh", yang mengandung arti bahwa yang makan/minum di kantin tersebut bukan orang yang sebelum berangkat ngantor sarapan roti dan minum kopi seperti yang saya lakukan rutin sebelum berangkat kantor.

Mendengar cerita saya itu dia langsung berkomentar bahwa saya orangnya "overthingking", bahkan dia mencoba memberikan alternatif lain tentang masalah saya dengan sebutan "Trust Issue".

Saya yang baru dengar istilah Overthinking mencoba menafsirkannya secara harfiah/bahasa yang berarti bahwa overthinking adalah pikiran yang berlebih, saya langsung tolak, karena saya tidak merasa terlalu berfikir berlebih, dan saya memandang bahwa apa yang saya pikirkan sehari-hari adalah hal biasa dan tidak menuntut keras untuk berfikir.

Untuk trust issue saya memang menyadarinya, trust issue seperti di ceritakan di blog-blog sebelumnya bahwa saya yang karena memiliki kekurangan di sisi akademik (hanya d3) dan finansial (ga banyak harta) menyebabkan orang lain tidak percaya terhadapat saya yang berkaitan dengan 2 sisi tersebut. Tetapi saya halau kesimpulan itu tidak beralasan karena saya melihat ada yang dipercaya terhadap kedua sisi itu padahal secara akademik dan finansial jelas saya yang lebih unggul.

Jadi persoalan yang sedang saya hadapi ini bukan adanya overthinking ataupun thruss issue yang hnaya berdasar dari pengertian sederhana saya, tetapi saya memandangnya ini akibat karena adanya bisikan-bisikan saja. 

"TEU BUTUH !", sesaat kemudian "HOSTING !".

Rabu (29 Nopember 2023) sekitar pukul 09.00 WIB, ketika saya duduk di kursi meja penerima tamu di ruang lobby diskominfo, saya melihat dari arah luar teras kantor seorang ibu-ibu memakai baju korpri berjalan dengan sedikit terburu buru memasuki ruang lobby diskominfo, setelah masuk dan melihat/memperhatikan wajahnya saya baru hafal bahwa itu adalah mantan atasan saya 2005-2007 yang sekarang menjabat sebagai sekdis. Saya yang merasa tidak dekat dan sedikit ada masalah karena bisikan-bisikan dari dia seperti yang di tulis di blog/blog sebelumnya dengan sebutan "Some One Out There Who doesn't Believe" tidak menyapa dan memilih diam ketika dia masuk dan melewati meja penerima tamu. Begitu juga mantan atasan saya tersebut walau melihat wajah saya, saya melihatnya dia ta acuh dan langsung berjalan menuju ruang sekretariat. Nah sesaat setelah melewati saya tiba-tiba saya dapat bisikan "Teu Butuh !", selang beberapa detik kemudian terlontar bisikan "Hosting !", dan kemudian barulah terdengar ucapan "assalamu'alaikum" dari orang tersebut yang menandakan beliau sudah masuk ke ruang sekreratriat.

Berkaitan dengan hosting, minggu lalu seksi saya mengeluarkan surat balasan terkait pelayanan hosting website propetani.id yang diajukan oleh diskatan. Saya mencoba menanyakan ke bu rengga tentang reaksi bu sekdis ketika memparaf disposisi surat balasan tersebut karena saya suka mendengar bisikan kata "HOSTING" darinya, tidak saya duga reaksi yang saya dengar dari bu rengga bahwa bu sekdis bertanya seputar latar belakang surat (--salah satunya terkait cantuman nama saya, memang di surat permohonan saya pesan agar ditulis nama saya biar saya semangat dan terikat), bukan masalah hosting seperti yang saya perkirakan.

Begitu juga kamarin (18/12/2023) seksi kami juga mengeluarkan surat balasan terkait pelayanan subdomain dan hosting website setda.kuningankab.go.id, tetapi saya baru ngeh malemnya ternyata ada yang terlewat terkait email resmi yang belum dibuat. dan rencanya pagi-pagi sebelum di TTD pa kadis, surat tersebut akan saya revisi, tak dinanya ternyata surat tersebut sudah di TTD dan sudah diberi nomor. Saya menolak saran bu rengga agar revisinya tak perlu diulang cukup di surat yang akan di-TTE saja, hal ini karena bagi saya bisa menimbulkan keterbatasan, dan saya memilih melakukan disposisi ulang.

Kesempatan disposisi ulang ini saya gunakan untuk langsung bertemu dengan bu sekdis dan menjelaskan latar belakang kekeliruannya, sekaligus mencoba melihat reaksinya terkait hosting yang selama ini terhaung-haung bisikannya di telinga saya. Dan tanpa saya duga ternyata saya melihat dari mimik wajanya ketika saya jelaskan dan mememaraf disposisi, saya melihat dia seperti orang yang "NETRAL", seperti tidak emosi dan tekanan untuk mengkritisi layanan hosting di surat tersebut yang selama ini saya dengar lewat "bisikan kerasnya" yang seolah-olah bukan saya yang mengerjakannya. Saya pun urung untuk mejelaskan terkait layanan hosting ini yang sudah saya siapkan sebelumnya seperti tertulis di konten QandA ini.

Melihat reaksi yang begitu NETRAL saya akhirnya berfikir ulang tentang siapa yang sebenarnya membentak lewat bisikan dengan kata "HOSTING !" selama bertahun-tahun ini. Berdasarkan intonasi, nada suara dan pengalaman menjadi bawahannya saya menyakini bahwa beliau lah yang membisiki saya itu, lantas kenapa dia tidak bereaksi ketika memaraf 2 buah surat terkait hosting tersebut, apakah pura-pura, apakah memang benar dia tidak pernah memahami dan tidak ikut campur melalui bisikannya. Berbeda dengan fakta nyata antara bisikan yang saya terima dari pa yusup sopyan dan alm cecep syamsul hasari dimana bisikan dan di dunia nyatanya syncron. Entahkah, tapi keyakinan saya adalah tetap bahwa beliau lah yang membisiki saya terlepas dari rekasi kedua surat tersebut. 

Kejadian lainnya adalah adanya surat masuk dari inspektorat terkait permohonan server minggu lalu, yang belum saya kerjakan yang rencananya akan di teruskan ke PDN Kemenkominfo. Di dalam disposisi surat permohonan server tersebut dari beliau didisposisikan kepada Aptika, padahal bisikan-bisikan yang saya terima darinya adalah bahwa yang mengerjakan server adalah bidang infrastruktur bukan aptika c.q  saya seperti yang sudah saya gambarkan di blog/konten lainnya.

Lantas kenapa bisikan dan realita dari 2 masalah ini bisa berbeda, apakah saya salah merelasikan bisikan, atau memang bukan beliau yang membisiki saya selama ini. Saya berinisiatif mencoba test syncronisasi bisikan ke bu eva, dengan bertanya apakah pendapat dia terhadapa disposisi surat permohoan server ini,  setalah saya tunjukan dan pandu membaca surat permohonan server tersebut, saya bertanya, seandainya bu eva jadi sekdis kemana disposisi surat ini, bu eva jawab "Infrasturktur lain??", ternyata hasilnya tidak syncron dengan disposisi sekdis, padahal saya meyakini pendapat bu eva selama ini bahwa server bukan tugas aptika salah satunya adalah bersumber dari pembisik dimana pembisik bu eva adalah yang membisiki saya juga. Lantas siapa pembisik hosting dan server selama bertahun-tahun ini.

Kemudian untuk bisikan "Teu Butuh" yang sudah saya dengar bertahun-tahun yang mengandung makna bahwa dia "Teu Butuh" segala hal yang berkaitan dengan saya, saya tidak akan menganalisisnya karena bukan masalah "butuh te butuh" tetapi lebih mengarah ke "Tidak Percayaan"/"Doesn't Believe" terkait yang saya kerjakan, apakah server, hosting, website, aplikasi atau theming, sehingga solusinya diperlukan pembuktian-pembuktian melalui website ini.

Tetapi saya pun sadar mungkin kata "Teu Butuh" ini mengaitkan ucapan saya tahun 2009 silam ketika saya berucap "Siapa yang butuh / Saha nu butuh", karena saya memposisikan saat itu bahwa saya adalah bawahan, sehingga dengan kesadaran/ketahuan diri, saya tidak perlu mencurahkan perhatian khusus (nyamper/nyapa/interkasi) terhadapnya yang sepertinya memperhatikan saya,  tetapi saya memilih berpendapat seandainya dia "membutuhkan saya" pasti dia menyuruh saya sehingga terlontarlah ucapan itu.

Demikian, semoga menjadi syncron terhadap berbagai pihak tentang persepsi-persepsi

NB : untuk istilah "overthinking" dan "trust issue", setelah saya baca-baca lebih dalam, ternyata definisi dan ruang lingkupnya nya tidak sesederhana yang saya tangkap seperti di ungkap di tulisan di atas.